October 17, 2007

Akhlak Rasulullah dan Slavish Mentality di Indonesia

Akhlak Rasulullah

Oleh : Zulheldi MAg

Di sebuah sudut Kota Madinah, selalu mangkal seorang pengemis Yahudi buta. Setiap orang yang mendekati, ia selalu berkata, "Wahai Saudaraku, jangan engkau dekati Muhammad yang mengaku sebagai Rasul itu. Dia gila, pembohong, dan tukang sihir. Jika kamu mendekatinya, dia akan memengaruhimu."

Walau sebegitu busuk hati dan perbuatan pengemis itu, setiap pagi Rasulullah selalu membawakan makanan untuknya. Tanpa berkata, beliau menyuapi pengemis itu. Rasulullah melakukan hal ini hingga wafat.

Ketika Abu Bakar berkunjung ke rumah Aisyah, beliau bertanya, "Wahai anakku, adakah sunah Rasulullah yang belum aku kerjakan?" Aisyah menjawab, "Wahai ayah, engkau ahli sunah, hampir tidak ada sunah yang belum Ayah lakukan, kecuali setiap pagi Rasulullah pergi ke ujung pasar dengan membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana."

Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke sudut pasar dengan membawa makanan. Abu Bakar memberikan makanan kepada sang pengemis. Ketika mulai menyuapi, pengemis marah sambil berteriak, "Siapa kamu?" Abu Bakar menjawab, "Aku orang yang biasa." Pengemis membantah, "Engkau bukan orang yang biasa datang. Apabila orang itu datang, tanganku tidak akan susah memegang dan mulutku tidak akan susah mengunyah. Orang itu selalu menghaluskan makanan terlebih dahulu sebelum menyuapkannya kepadaku."

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sambil berkata jujur, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku sahabatnya. Orang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW." Setelah pengemis Yahudi itu mendengar cerita Abu Bakar, ia menangis dan berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Ia begitu mulia." Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya masuk Islam dan bersyahadat di hadapan Abu Bakar.

Itulah salah satu bentuk keagungan seorang Muhammad. Kebaikannya dan ketinggian akhlaknya tidak terbendung oleh kebencian dan cercaan. Bahkan, beda keyakinan yang notabene merupakan hal yang paling esensial, menjadi lebur di hadapan keluhuran hatinya. Ini sebuah cermin dan teladan yang sangat dibutuhkan ketika saling pengertian, toleransi, dan objektivitas menjadi barang mahal.

Slavish Mentality

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

Jika pemerintah atau siapa saja mau membuka pidato pembelaan Bung Hatta pada 1928 di depan Mahkamah BelAnda di Den Haag dan pidato pembelaan Bung Karno di depan pengadilan kolonial di Bandung pada 1930, tentu mereka akan berpikir ulang tentang kebijakan ekonomi negara yang semakin terpasung dalam kapitalisme global. Sudah banyak kritik disampaikan mengenai penjualan aset-aset strategis bangsa kepada pihak asing dengan saham mayoritas, tetapi kebijakan itu tetap saja berlangsung. Bukankah ini sebuah penjajahan ekonomi yang justru diundang masuk oleh anak bangsa sendiri?

Soekarno-Hatta dengan keberanian luar biasa ingin menghalau imperialisme itu, generasi yang ahistoris berikutnya malah bangga menyerahkan batang leher kepada pihak asing padahal bangsa ini sudah merdeka. Kata seorang penulis Aljazair, pandangan ahistoris berisiko tunggal: Orang gagal membaca realitas. Realitas kita sekarang adalah bahwa para elite kita yang lagi manggung kini tetap saja merasa nyaman sekalipun rumah tangga bangsa ini sedang digarong pihak asing, tentu dengan perjanjian-perjanjian formal sebagai layaknya bangsa merdeka.

Soekarno dan Hatta yang menyampaikan pidatonya untuk melawan sistem kapitalisme/imperialisme pada saat bangsa ini masih terjajah, mengapa sekarang pemerintah tidak merasa tersinggung dengan penguasaan asing terhadap aset-aset vital milik bangsa? Jawabnya karena kita sedang sama mengidap slavish mentality (mental budak). saya mohon pimpinan negara dari yang paling pucuk sampai tingkat II diwajibkan membaca dua pidato itu untuk melihat secara kritikal mau ke mana negeri ini akan dibawa, mau digadaikan, mau dijual, atau mau diapakan? Pidato Hatta berjudul "Indonesie Vrij" (sudah diterjemahkan menjadi "indonesia Merdeka") dan pidato Bung Karno "Indonesia Menggugat".

Kedua pidato itu sama bobotnya, sama pentingnya. Bedanya Hatta lebih dulu menyampaikan di Den Haag dalam bahasa Belanda dan Bung Karno di dalam negeri dua tahun kemudian, disampaikan dalam bahasa Indonesia dengan kutipan pendapat para sarjana Belanda dan Barat lainnya untuk mendukung posisinya sebagai pejuang nasionalis yang sedang dituduh menghasut.

Bagi saya kedua pidato ini semestinya dijadikan pedoman kita berbangsa dan bernegara justru pada saat kekayaan Indonesia sedang jadi rebutan pihak asing. Dengan membaca kedua pidato itu kita akan tahu bahwa apa yang berlaku sekarang ini agak mirip dengan zaman VOC dengan politik monopoli perdagangannya yang sangat destruktif bagi nusantara ketika itu.

Aneh bin ajaib bangsa dan negara yang mengaku merdeka telah mengundang VOC-VOC baru untuk memberikan hak monopoli kepada pihak asing. Nanti bila kekayaan bumi dan laut kita sudah terkuras, pengusaha asing itu akan lenggang kangkung meninggalkan arena yang sudah kering-kerontang, dan tinggallah anak negeri menangisi nasib sebagai manusia tak berdaya. Bisa saja sebagian anak bangsa menjadi kaya raya karena telah membantu asing, tetapi bagi mayoritas rakyat yang tersisa tinggal ampasnya saja. Rakyat banyak ini di era penjajahan ditindas oleh asing secara langsung, di zaman kemerdekaan ditindas melalui "kebaikan hati" pemerintahnya sendiri.

Oleh sebab itu, sebelum bangsa ini betul-betul menjadi bangsa kuli 100 persen, siapa tahu dengan membaca pidato Bung Karno dan Bung Hatta, kita masih bisa sadar dan siuman dengan menyatakan: Kita sudah terlalu jauh melenceng dari jalan yang benar, kita sudah semakin terjerat dalam tali lasso kapitalisme global yang mencekik leher bangsa ini tanpa belas kasihan. Saya harap Menteri Nuh memperbanyak kedua pidato di atas dan membagikannya kepada elite bangsa ini.

Sumber: Republika Online (Jakarta)

Tags: , , , , , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Ask BlinkList blogmarks BUMPzee Blogg-Buzz Google Ma.gnolia muti Netscape Newsvine PlugIM ppnow Rojo Shadows Simpy Slashdot Socializer Sphere Spurl StumbleUpon Tailrank Technorati Windows Live Wists Yahoo! Help

Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://dahlaniskan.sayanginanda.com/blog/jawa-pos-akhlak-rasulullah-dan-slavish-mentality-di-indonesia-59/trackback

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.